Selamat Datang di F Ramadhani xFTPx Blogspot Selamat Browsing Semoga Bermanfaat :p

Rebel For Most Of Your Lifetime ( Outsider Handayani Rock City ) xFTPx


^^ Untuk kaum yang tersisih dan terlupakan. Untuk mereka yang tersudut dan terdiam. Lawan dunia yang marak akan benci & dengki dengan letup cinta yang tegar menyala ^^


^^ Jadilah seorang counter-culture with a big heart, yang bertanggung jawab, respect thd keluarga, lingkungan dan bumi pertiwi ^^

Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Juni 2012

Bunuh TV-Mu, Hidupi Hidup-Mu !!!

   Siapa yang berani melawan kekuatan televisi? Dengan kehadirannya yang begitu masif dan sesnsaional di tengah ruang keluarga, rasanya sulit mencegah hegemoni televisi terhadap kehidupan kita. Dibandingkan media lain, seperti buku, televisi merupakan suatu hiburan yang paling diminati oleh masyarakat. Walaupun harganya tidak bisa dibilang murah, tapi adalah suatu keharusan bagi setiap keluarga untuk setidaknya punya satu pesawat TV di ruang tamu mereka. Televisi tidak hanya hadir untuk keluarga berada, tapi ia juga mampu memberi hiburan sampai ke pelosok desa.

   Dalam sebuah penelitian, menunjukkan bahwa televisi memiliki daya penetrasi jauh lebih besar daripada media informasi lainnya. Penetrasi televisi mencapai 90,7 persen, bandingkan dengan radio (39%), surat kabar (29,8%), majalah (22,4%), dan internet (8,8%).

Nielsen Media Research (2004)

   Di Indonesia sendiri, perkembangan awal dari media televisi adalah sekitar tahun 1960-an. Soekarno tidak ingin negaranya dibilang ketinggalan jaman oleh negara lain. Oleh karena itu, selain membangun Monas dan Hotel Indonesia, televisi adalah salah satu monumen yang diperjuangkan oleh Soekarno.

   Setelah Soeharto berkuasa, fungsi dari televisi digunakan bukan sebagai media massa, tapi sebagai media pemerintah seperti memberitakan berita ataupun propaganda. Dia ada untuk pemerintah dan dia melayani pemerintah. Masyarakat dibuat bodoh, karena setiap orang hanya cukup duduk diam, lihat dan dengar.

   Sejak saat itu, lebih dari 70% uang yang beredar, berada pada keluarga orang-orang Soeharto saja. Maka pada awal tahun 1990-an, muncullah lebih banyak lagi media-media swasta. Bukan karena masyarakat butuh media baru, tapi karena kelebihan uang, sejak yang mempunyai saham atas perusahan-perusahaan TV swasta adalah orang orang dari "golongan terpilih" Soeharto.

APA, MENGAPA DAN BAGAIMANA?

   Disini, televisi menjadi sebuah episode baru dari sebuah kehancuran. Karena setelah masyarakat dibuat bodoh, generasi-generasi baru dibuat menjadi konsumtif. Sampai sekarangpun televisi belum mampu memberikan informasi yang benar-benar layak di konsumsi (kalaupun ada itupun jumlahnya sedikit sekali). Setelah kejatuhan Orde Baru, media televisi menjadi lahan bisnis yang empuk untuk para konglomerat-konglomerat yang juga ingin bermain didalamnya. Sehingga tujuan dari televisi, bukan lagi sebagai media informasi, tapi hanya sebagai media eksploitasi untuk mengeruk keuntungan.

   Membiarkan media televisi melenggang begitu saja adalah tindakan bodoh. Pasalnya, di setiap waktu, televisi selalu melancarkan teror (mental dan perilaku) kepada masyarakat. Ada berbagai permasalahan yang serius berkenaan dengan media televisi. Apalagi, ketika kita mengetahui bahwa media ini lebih banyak diserap masyarakat menengah ke bawah. Pasalnya, kelompok masyarakat ini cenderung tidak kritis dan menelan mentah-mentah semua yang ditampilkan di televisi. Artinya, meskipun program stasiun TV nihil tanggung jawab, masyarakat akan tetap menerimanya.

   Di sinilah teror media televisi bekerja. Caranya dengan mengeksploitasi semua keinginan masyarakat, perusahaan-perusahaan TV mulai berlomba-lomba menciptakan program-program yang memuaskan keinginan dan mewujudkan 'mimpi' masyarakat. Sehingga, televisi hanya akan menjadi pelayan yang mengilusi dan meninabobokan, tetapi tidak mempunyai daya untuk membangun masyarakat. Dan pada akhirnya peran televisi adalah 'menjual bukan memberi'.

   Dari segi bahasa saja bisa kita lihat terornya. Pemakaian bahasa gaul dan populer ala Jakarta, seperti lo-gue dan so what gitu loh, akhirnya merambah sampai ke Aceh, Manado, bahkan Papua. Juga soal gaya hidup remaja Jakarta yang ditiru remaja-remaja di daerah terpencil. Budaya imitatif ini tumbuh marak sebagai konsekuensi logis dari pesona superfisial yang ditampilkan media televisi.

   Gejala peniruan atas apa yang ditampilkan di televisi, pada gilirannya akan mendorong tumbuh-suburnya budaya pop (pop culture) yang rendahan, yang dikangkangi oleh kekuatan kapitalis/modal. Rekayasa sosial (social engineering) terjadi bukan karena kesadaran masyarakat untuk pengembangan, melainkan terjadi karena hegemoni kekuatan modal yang membentuk masyarakat semakin tergantung (dependent) pada media televisi.

   Logika komersial membuat berbagai program acara televisi menjadi seragam bentuknya. Ketika suatu program menjadi laris-manis maka program-program serupa juga semakin bermunculan. Persis sebagaimana kita berada di tengah pasar malam, semua stasiun televisi menayangkan kegemerlapan, pesona fisik, dan hal-hal lain yang superfisial. Di balik kegemerlapan, ke-glamouran dan hal-hal superfisial itulah, dipropagandakan keasyikan terhadap hal-hal yang berada di luar kesadaran diri. Kemudian muncul kekaguman dan kebahagiaan di luar batas, sehingga memicu kegandrungan untuk terus mengkonsumsi, untuk terus hidup dalam gaya modern dan kemewahan.
 

   Akibatnya, kepribadian yang kemudian menonjol adalah individualisme. Nilai-nilai moralitas, sosial-kemasyarakatan, mulai terpinggirkan oleh hal-hal yang superfisial, seperti materi dan jabatan.




  


"Jika ingin menjadi manusia baru, manusia yang sadar diri, maka beranilah untuk: Matikan TV-mu! Ataupun jika anda belum berani seperti itu, maka mulailah dari sekarang untuk: Matikan Otak-mu dari Pengaruh Buruk Propaganda Media TV!"

Senin, 11 Juni 2012

Diam Itu Dosa

Dunia kita kaya akan warna, budaya & sumberdaya
Tapi dunia kita juga kaya akan derita

Nyawa tak ada harganya dibandingkan harta
Nurani tak ada bedanya dengan tidak peduli
Akal pikiran tak ada gunanya daripada kekuasaan

Bisakah kita diam ketika kita melihat kenyataan bahwa para birokrat kita ternyata hanya merakyat ketika pemilu tapi berkhianat ketika menjabat?

Bisakah kita diam ketika melihat banyak teman-teman kita tidak mendapatkan pendidikan layak yang katanya diwajibkan oleh negara ini?

Bisakah kita diam ketika melihat adik-adik kecil kita sudah turun ke jalan dan kehilangan masa mudanya yang bahagia?

Bisakah kita diam ketika melihat saudara-saudara kita hidup dalam ketidakberdayaan kemiskinan, serba kekurangan dan terhimpit banyak kesulitan?

Bisakah kita diam ketika ada beberapa golongan yang menumpuk kemakmuran sementara banyak yang lainnya terperangkap dalam jaring kemelaratan?

Bisakah kita diam ketika alam raya yang sebenarnya kita milki bersama untuk menjamin kesejahteraan banyak orang sudah dikapitalisasi oleh segelintir majikan?

Bisakah kita diam ketika melihat lembaga hukum yang kita percaya ternyata telah menipu kita atas nama keadilan?

Bisakah kita diam ketika melihat saudara-saudara kita yang tergusur hanya bisa marah, menangis dan menjerit tanpa bisa melawan?

Bagaimana mungkin kita bisa diam melihat semua itu?
Padahal semuanya ada di depan mata

Kepercayaan mana yang menyuruh kita diam?
Agama mana yang yang memperbolehkan kita diam?
Kitab suci mana yang menganjurkan kita diam?
Ilmu pengetahuan mana yang mengajarkan kita diam?

Kalau diam itu adalah dosa
Lalu kenapa kita tetap diam saja
Ketika melihat dunia tak lagi bisa tertawa bahagia

Mimpi Buruk Dunia

Ketika kita lupa pada takdir akan kehidupan yang harus kita jalani
Ketika kita tak peduli lagi pada senja pertama yang kita cintai
Ketika kita terbuai dan terlena oleh kemajuan dunia
Ketika itu juga kita tak tahu lagi kebahagiaan selain apa yang dijajakan oleh TV
Dan sudah saatnya kita harus segera menyadari
Bahwa dunia perlahan namun pasti berada dalam genggaman ketakutan

Kemiskinan dianggap sebagai hal yang lumrah atas imbas kesenjangan sosial
Pendidikan kian menjadi keseharian yang tidak mendidik
Kehidupan semakin tak terhidupi selain demi akumulasi kapital dan kekuasaan
Mimpi buruk telah bertransformasi menjadi keseharian yang semakin nyata

Kita dihadapkan kepada realita yang sungguh tak manusiawi
Dimana keadilan seakan hanyalah sebuah mimpi
Dimana tingkat kekerasan menjadi semakin merajalela
Dimana biaya hidup semakin melambung tinggi
Dimana kelaparan dan kemiskinan selalu membayangi
Dan itulah gambaran nyata keadaan yang harus kita jalani sehari-hari
Bukankah sungguh ironis dengan kekayaan para pejabat
Yang sejatinya mereka adalah para pelayan rakyat

Laju produksi dan konsumsi yang sedemikian cepat
Membuat kita semakin terseok-seok demi menggapai kepuasan hasrat
Segala sesuatu yang hidup telah semakin tereduksi
Menjadi benih reproduksi kelelahan dan ketakutan

Haruskah kita membiarkan mimpi buruk ini terus berlangsung ?
Sekarang juga, kita akan berjanji :
Untuk tak lagi lupa membersihkan darah pada luka yang tak kunjung mengering ini
Untuk sesuatu yang hidup, yang kita namakan kesejahteraan bersama

Pengkhianatan Matahari Pagi (Disharmony Of Humanity)

Pernahkah kita belajar pada...

Eksistensi yang mencoba mengabaikan nurani
Kolaborasi duniawi yang selalu menghakimi massa
Arogansi yang tak pernah jera untuk menjajah cinta
Dan siluet insan gadungan yang membunuh sayang

Sanggupkah kita takkan lupa untuk menuntut pada...

Angkara yang memadamkan nyala api kedamaian
Munafik yang mengotori kesucian sperma
Fatamorgana yang menenggelamkan panorama
Dan teatrikal yang mengangkangi firman sangkakala

Ataukah kita hanya sekedar berhenti berharap pada...
Untaian kalam hati yang terdiam bisu menangisi parodi basi
Dan ratapan sunyi yang merengek tiada pasti

Apakah salah jika nurani menuntut ?
Apakah dosa jika ia menari menantang barisan belati ?
Padahal nurani itu rasa dan rasa adalah anugerah
Yang selayaknya disajikan untuk sesama

Karena itu cobalah sejenak untuk menikmati...

" Oh betapa agungnya dunia kita
Di hadapan barisan nisan yang dikomando matahari pagi
Rancangan realita yang serupa alam mimpi
Berjajar rapi dalam etalase tirani mendekonstruksi ambisi
Menghabisi semua nyawa untuk selembar kontrak asuransi
Dengan janji surga yang diakumulasi oleh pahala bertubi-tubi
Serupa berhala konstitusi yang saling berebut jatah kursi
Membuat kebebasan hanya berkibar dibalik layar kaca televisi
Dan monumen cinta hanya akan berdiri setelah diimingi sederetan nafsu konsumsi
Hingga puncak kesabaran, tingkat keimanan dan barikade impian
Menanti ajal untuk hancur berantakan ! "

Cukup sudah !
Buyarkan lamunan sejenak untuk menabur semangat...

Sekarang cobalah untuk pasrah
Dan biarkan tubuhmu ditelanjangi oleh angkuhnya bayangan malam
Jangan beri kesempatan pada gairah bulan dan bintang
Karena mereka hanyalah biduan yang bersinar diantara kelam
Jangan berharap angin berhenti berdansa
Sebelum ia menjumpaimu untuk meniupkan asa
Karena air susu tidak akan dibalas dengan air tuba
Tapi dengan harapan yang akan terbakar
Melahirkan reinkarnasi rasa untuk mengebiri naluri

Dan karena matahari terlalu pagi untuk mengkhianati
Maka jangan izinkan dirimu untuk mati terlalu dini...